Kisah Cinta Kak Rina Yang Berbody Sangat Montok

Kisah Cinta Kak Rina

Bandarapi.net , Kisah Cinta Kak Rina Yang Berbody Sangat Montok  – Namsaya jaka, 28 tahun, kisah ini terjadi 3 tahun lalu ketika saya memulai karir baru sebagai auditor di PTPN IV di kawasan perkebunan Teh di Jawa Barat.

saya tinggal seorang diri di rumah dinas mungil dan asri semi permanen di sekitar kebun. Untuk keperluan bersih2 rumah dan mencuci pakaian saya mempekerjakan seorang pembantu harian, Rina.

gadis ini berumur 44 tahun, hitam manis, tinggi skitar 160 dan tubuhnya sedikit gempal. Rina asli Solo, dia menikah dan ikut suami yg bekerja di perkebunan ini. 5 tahun yg lalu suaminya wafat dan meninggalkan seorang balita perempuan berumur 5 tahun. Rina mengontrak rumah kecil di desa sekitar perkebunan bersama ibu mertuanya yg sdh tua.

5 bulan Rina melayani keperluanku dgn baik, meski agak pendiam dan memang kami jarang bertemu kecuali di akhir pekan. Gaji yg saya berikan sebenarnya diatas pasaran, ttp mungkin karena besarnya kebutuhan beliau sesekali meminjam uang dariku. Belakangan Rina meminjam uang lebih besar dari biasanya, setelah saya tanya dgn detail akhirnya dia mengsayai telah terjebak rentenir akibat kebiasanya membeli togel dan arisan.

Kisah Cinta Kak Rina

Tidak mengerankan, hanya beberapa bulan berlalu Rina telah meminjam uangku lebih dari 2 jt, dan pada usahanya meminjam terakhir saya menolaknya dengan h`alus.

Pagi itu dia sangat bingung dan panik, dengan meneteskan air mata beliau mencoba terus memohon utk memberinya pinjaman sekitar 1,5 jt utk menutupi tuntutan hutang dari bandar judi togel di desa.
saya kembali menolak dengan tegas, dan Rina terus terisak.

saya memperhatikan gadis paruh baya ini dgn seksama, wajahnya seperti kbanyakan gadis jawa pada umumnya,tdk cantik tp saya sayai masih terlihat lebih muda dari umurnya. Dan sebenarnya selama ini juga saya sesekali melirik tubuh bawahnya yg msh kencang dan bahenol walau pikiran kotorku tdk melangkah lebih jauh.

Semalam, saya dan beberapa temanku sempat iseng nonton film blue sambil makan sate kambing dari warung makan Pak Kirun di ujung desa dan minum beberapa botol anker bir.
Pagi itu terasa sayamulasinya. Kesadaranku belum begitu pulih.

saya mencoba menepis pikiran itu, bagaimanapun itu bukan diriku yang sebenarnya. Rina juga jauh dari tipe gadis yg saya inginkan. Terlebih saya tsayat dengan akibat yg bisa saja terjadi. Bagaimana kalau dikemudian hari kenekatanku akan berbalik menjadi bencana utk diriku dan karir.

Pikiranku masih silih berganti antara pertimbangan kotor dan waras. Rina masih duduk bersimpuh di depanku sambil melelehkan air mata. Ruangan menjadi sunyi. Well, saya tidak mungkin tega menolak permohonanya, tapi setidaknya dia harus belajar utk berfikir panjang.
“Jangan duduk di lantai kak, dikursi aja, saya jadi gak enak” saya memulai bicara.
“Nggih Den..”

Dia bangkit untuk berdiri,bagian bawah pada daster lusuh itu sedikit tersingkap ketika dia berdiri, ada bagian yg tidak sengaja menyangkut pada tonjolan kepala peniti pada kancing terbawahnya,sebagian pahanya yang besar dan lututnya terkuak
dihadapanku beberapa detik. Buru2 dia menariknya kebawah begitu tersadar. Pikiranku kembali kacau.

“Hmm…bingung saya kak..”Jawabku, kepalsaya masih terasa pusing hasil minum2 semalam, saya menekan sisi kiri kepalsaya.
“Kenapa den, pusing?” Tanya Rina.
“Iyah, semalem begadang sm temen2..” Jawabku.
“kak ambilin aer putih sebentar..”Serunya sambil segera berlalu ke dapur.

Sekelebat saya masih sempat melihatnya melangkah pelan, setan makin kuat mempermainkan pikiranku. Bongkahan pantat itu bergoyang2 dibalik daster, mungkin pakaian dalamnya sdh sempit, dan bayangan tentang pahanya yg td sempat terlihat itu makin menggangguku.

“Makasih kak” ujarku ketika menerima segelas air putih dan meminumnya perlahan.

Rina masih berdiri di depanku, menungguku selesai minum. saya menyumpahinya dalam hati, melihat tubuhnya lebih dekat seperti itu pikiranku makin terpuruk.
“Duduk aja kak, santai aja, kita bicarain dengan tenang ” ujarku.
“Iya den..” Jawabnya pelan.
“Gak kebanyakan kak mo minjem segitu?, terus terang saya keberatan, kayaknya yg kemaren2 sudah cukup..” Ujarku memulai kembali pembicaraan.
“Sebenernya utangnya sejuta tuju ratus den, tapi kak nambain pake simpenan dirumah, tolong banget den, kak sebenernya malu banget tp kepaksa..”Jawabnya dengan suara lirih.

“Waduh..”Jawabku terputus.
saya kembali terdiam, kepalsaya masih terasa pusing. saya menatap pemandangan luar dari jendela. Sebenarnya tidak jadi soal utk soal jumlah uangnya, cuma sisi gelapku masih mencoba meyakinkanku utk mengambil kesempatan.

Rina menatap ke lantai, pikiranya masih kalut. Dia menanti jawabanku dengan putus asa. saya akhirnya menyerah, biarlah, ini utk terakhir saya membantunya, dan berharap dia segera pulang agar sesuatu yg terburuk tidak terjadi pagi ini.
“Okay kak, sebenarnya ini berat buat saya..” Ujarku.
“kak rela ngelsayain apa aja den supaya den percaya kak mau balikin uangnya..”Sergahnya.

“Apa aja..” Waduh, kata2 itu sangat menggelitik benakku. Perempuan bodoh, seruku dalam hati.
“Ngelsayain apa aja maksudnya apa nih kak..”Tanysaya sambil tersenyum.
“Apa aja yg den jaka minta kak kerjain ..”Jawabnya lugu.
“Selain urusan rumah memang apa lagi yg bisa kak kasih ke saya?” Kalimatku mulai menjebak.
“Hehe..apa aja den..” Jawabnya sambil tersipu.
“kak..kak..hati2 klo ngomong..”saya menghela nafas menahan gejolak batin.
“Maksudnya apa den..”Tanyanya heran.
“Saya ini laki2 kak, nanti kalo saya minta macem2 gimana..”Lanjutku mulai berani.
“kak gak paham den..” Wajahnya masih bingung.
“Yaa gak usah bingung, katanya mau ngelsayain apa aja..”Godsaya.
“Yaa sebut aja den, nanti kak usahain kalo memang agak berat dikerjain..”Jawabnya.
“Walah..kak..kak..yaa sudah saya ambil uangnya sebentar, tapi janji yah dikembaliin secepatnya”saya berusaha menyudahi percakapan ini.
“Makasih den..makasih banget..”Jawabnya lega.
“Tapi emangnya den jaka tadi mau ngomong apa,mungkin kak bisa bantu?”Lanjutnya.

saya yg tengah berjalan menuju kamar terhenti, kali ini pikiranku sudah tidak terkontrol lagi, kalimat itu seperti akan meledak keluar dari mulutku.

saya membalikan badan, menatapnya dengan seringai aneh.
“kak yakin mau nurutin apa aja kemauan saya?”Sergahku.
“Iya den, ngomong aja..”Jawabnya.

Dasar perempuan bodoh ujarku dalam hati.
” Saya kepengen kak masuk ke kamar saya..”Kalimat selanjutnya seperti tercekat ditenggorokan.
“Terus Den?” Tanyanya penasaran.
” kak temenin saya tidur..”Ucapanku serasa melayang diudara, jantungku berdegup kencang.

Wajahnya sontak kaget dan bingung. saya tau dia pasti akan bereaksi seperti itu, tapi salahnya sendiri. saya sudah berusaha keras utk menahan diriku utk tidak berniat aneh pada dirinya tapi kesadaranku belum penuh utk melawan kegilaan ini.

“Maksudnya..maksudnya apa den..kak kok jadi tsayat..”Wajahnya mulai memucat.
“Iya temenin saya di ranjang, saya lagi kepengen gituan dengan perempuan sekarang..”Jawabku, saya tau muksaya memerah.

“Mmm…tapi..tapi itu kan gak mungkin den..”Ujarnya dengan suara pelan.
“Mungkin aja kalo itu syaratnya kak mau pinjem uang..”Jawabku .

Ruangan kembali sunyi, Rina tertunduk, menggenggam kedua tanganya dengan gelisah. Ada rasa sesal telah mengucapkan kalimat tadi, tapi sudah terlanjur. saya sudah tidak mungkin menariknya, sekarang biar sisi gelapku yg bertindak.
“Gimana kak?” Tanysaya sambil kembali duduk dikursiku.
“Tapi itu gak mungkin Den..gak mungkin..kak bukan perempuan kaya gitu..” Jawabnya, suaranya kembali lirih.
“Hhhh…” saya menghela nafas berat.

Rina wajahnya kembali muram, matanya menatap ke luar pintu, kosong, sperti berpikir keras.
“kak gak nyangka kok aden bisa2nya minta yang kaya gitu..kak ini sdh tua..gak pantes ..”
saya diam beberapa saat. Ada rasa amarah tanpa alasan bermain dipikiranku.
“Itulah laki2 kak..” Hanya itu kalimat yg bisa meluncur dari mulutku.

Dia mungkin menyesal telah mengucap kata2 yg tadi memancing kenekatanku. Tapi situasinya sudah terjepit, gadis lain mungkin akan menghardiku dan segera pergi menjauh, sementara Rina tidak punya pilihan lain.

“Sekarang terserah kak, saya tetep kasih uang yg kak minta, kalo kak mau menuhin kemauan saya okay, gak juga silahkan..”Jawabku pelan sambil melangkah ke kamar.

saya kembali ke ruang tamu dengan sejumlah uang ditangan. saya meletakanya pelan di atas meja kecil di depannya. Wajahnya masih terlihat tegang, dia hanya melirik sebentar ke arah meja kemudian kembali tenggelam dalam pikiranya.

Kami kembali sama2 membisu. Sesekali saya menatapnya, dia menyadari tengah diperhatikan olehku.

“Den…apa aden yakin …?” Tiba2 dia berucap.
“Sebetulnya saya gak tega kak, tapi entahlah..itu yg ada dalam otak saya sekarang..terserah kak de..”Jawabku dengan tenang.

Matanya berkaca2 menatap langit2 ruangan, perasaanya pasti tertekan. Dia kembali terdiam.

“Hmmmm…baiklah Den..kak gak tau lagi mo ngomong apa, atau harus kaya mana sekarang..kalo itu maunya aden..terserahlah..jujur aja kak teh tsayat banget..kak bukan prempuan gitu den..kak memang janda..tapi bukan..”
“Sudahlah kak, klo memang bersedia, skarang saya tunggu di kamar, kalo keberatan, silahkan ambil uangnya dan segera pulang..”Ujarku tegas, kemudian saya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar.

saya membaringkan tubuhku di kasur, trus terang saya pun dilanda ketsayatan.saya tengah dilanda gairah, tapi was2 dengan kemungkinan buruk yg bisa saja terjadi.

Butuh beberapa menit menunggu, pintu kamarku yg memang tidak terkunci perlahan2 bergerak terbuka. Rina melangkah masuk sambil tertunduk, terlihat sangat kikuk.

Dia berdiri menatapku di samping ranjang, tatapanya penuh arti. Well, kalo saja saya tidak terlanjur berpikiran mesum mungkin saya segera berlari keluar kamar, saya merasakan tsayat yg sama seperti yg dirasa Rina.

Tapi saya berusaha tenang, saya bangkit dan duduk di pinggir kasur.
“kak yakin mau ngelsayain ini”?tanysaya.
“Hhh..sekarang smuanya terserah aden aja..”Jawabnya pasrah.

saya menatapnya lekat2, pandanganku menelusuri seluruh tubuhnya, seperti ingin menelannya hidup2.

Tangan kananku meraih jemari kiri tanganya. saya memegangnya pelan, jemari itu terasa dingin dan gemetar.

Memang sudah harus kejadianya seperti ini, apa lagi yg saya tunggu ujarku dalam hati. Makin cepat makin baik, setan itu membisiki bertubi2.

saya menarik tangan itu agar tubuhnya mendekat. Niatku sebelumnya ingin memeluknya terlebih dahulu, tapi nafsuku sudah tidak tertahankan. saya segera meneruskan dorongan tubuhnya yg limbung terhempas ke atas kasur.

Begitu dia terhenyak di sampingku, saya langsung menerkamnya, menghimpitnya dibawah tubuhku dan ciumanku langsung mendarat dibibirnya.

saya tidak memberikanya waktu utk berpikir, saya melumat2 bibirnya, menciumi dengan kasar lehernya dan trus bergerak menjelajahi bagian dadanya.

Nafasnya tersengal, wajah itu masih terkaget2 dengan apa yg sedang saya lsayakan. Jemariku segera beraksi, saya menjamah bongkahan pahanya dibawahku, daster itu telah tersingkap ke atas.

saya seperti kesetanan menciumi pahanya yg besar, mengecup berkali2 selangkanganya dan jemari tanganku yg lain langsung meremas buah dadanya. Gerakanku cepat terburu nafsu.

Sebentar saja seluruh tubuhnya telah ku jamah. saya masih menciuminya membabi buta. Tak lama kemudian saya bergerak cepat membuka lepas pakaianya.

“Den..jangan den..sudaah..” Serunya ketika saya kembali menciuminya,hanya hanya bra dan celana dalamnya yg tersisa menutupi tubuhnya. Seraya kedua tanganya berusaha mendorong tubuhku.

saya tidak memperdulikan perlawananya. saya menduduki perutnya sambil kedua tanganku bergerak melepas bajuku.

Nafasku memburu, yg keluar dari mulutku hanyalah desahan penuh nafsu angkara murka. gadis ini makin ketsayatan melihatku.

Kemudian saya bangkit berdiri di atasnya. Kedua tanganku bergerak cepat melepas celana pendek dan celana dalamku. Rina menangis.

saya tidak perduli lagi, kejantananku telah berdiri mengacung di atasnya, Rina makin panik melihatku. Jemariku bergerak2 mengocok2 cepat batang kontolku sehingga semakin keras berdiri, matanya terpejam basah.

“Den..sudahlah den…jangan..sudahlah..kak gak jadi pinjem uang..sudaaah..”Jeritnya ketika saya kembali menduduki perutnya. Dia berusaha meronta tapi kedua tanganku dengan kuat menahan tanganya pada kedua sisi bantal.

“Sudah telat kak” Suarsaya bergetar menghardiknya.

saya memaksa kedua paha sekel itu terbuka, dia masih berusaha menutupnya rapat. Kami bergumul beberapa saat, begitu ada celah saya segera menekan kuat selangkanganku di dalam jepitan pinggul Rina.

Dengan gerakan kasar saya menarik ke samping paha kirinya. Tanganku langsung bergerak menuntun kontolku ke arah memeknya.

saya sempat salah memposisikanya, dorongan kontolku menggesek keluar di atas permukaan kemaluanya. Pada percobaan kedua kepala penis itu langsung menusuk masuk.

Rina menjerit terperikan oleh rasa sakit..Wajahnya meringis,matanya menyipit menahan perih diselangkanganya. Dia sangat terkejut ketika benda itu menerobos masuk.

“Ahhh…shhh…oohhh..” Desahku,terasa nikmat menjalar melalui kejantananku hingga naik ke otak, saya seperti terbakar. Melihat kemaluan Rina yg berbulu lebat membuatku makin bernafsu. Tubuh kami masih terdiam ksaya beberapa saat.

saya sedikit menarik kontolku dan menusuknya kembali di dalam, Rina kembali tersedak,urat lehernya menegang, matanya menatap ke arah selangkangan, lelehan air mata itu masih mengalir dipipinya.

saya kembali mengulanginya, kali ini saya mendorongnya lebih keras. Rina makin menjadi tangisnya.
“Ouhh..huuhuu..huhuu..deen..sudah denn…sudaaah..” Rintihnya sambil memegang bahuku keras.

….Selanjutnya saya lupa diri, saya meliuk2 menyodok selangkanganya. Penuh tenaga, makin lama makin cepat gerakanku. Bunyi derit ranjang kayu itu menambah seru suasana.

gadis ini memiliki tubuh yg cukup menawan. Meski sudah berumur tapi kulitnya masih kencang, bokongnya tebal dan bahenol. Pahanya yg besar itu mulus meski tidak putih, melingkari pinggulku.

saya beringas menghempas2 tubuhnya di bawahku. Rina telah berhenti menangis, matanya terpejam, hanya terdengar suara nafasnya yg terputus2, buah dadanya bergoyang2 mengikuti gerakanku. gadis ini sudah pasrah dengan apa yg tengah terjadi.

Bahkan ketika saya merubah posisi, mengangkat kedua pahanya ke atas, menahanya tergantung di udara dengan kedua lenganku,kembali kontolku terbenam,Rina hanya diam. Hujamanku makin bebas dan dalam menjajah memeknya yg terkuak lebar.
“.. Plok..plok..plok..” Suara gesekan selangkangan itu terdengar jelas ditelingsaya.

Kemaluan Rina yg basah makin menghangatkan batang kontolku di dalam. Sesaat lagi saya sudah tidak kuat menahan desakan, saya seperti kesetanan menggenjotnya. Rina seperti mengerti apa yg akan segera terjadi.

“Den..tolong.. jgn keluarin di dalem den..tolongg…” Serunya memohon dengan suara gemetar.

saya tidak menjawab, saya tengah fokus ingin menuntaskan aksiku. Sedikit lagi akan sampai.

Rina memekik menyebut namsaya saat tusukanku tiba2 berhenti, tubuhku tengah meregang.
“Deenn..cabut deen…” Serunya panik sambil menekan perutku ke belakang.

Aliran sperma itu bergerak naik mendekati pangkal kontolku, jemariku telah kuat mencengkram sprei. Beruntung saya masih sempat menarik batang kontolku keluar dan tepat sedetik kemudian semprotan pertamanya melompat keluar.
“Ahhhhh…sshhhhhh…mbaaak…aduuhhhh…..” Jeritku panik.

Belasan kali cairan hangat itu menghantam sebagian perut Rina. saya terpapar kenikmatan luar biasa, matsaya terpejam beberapa saat hingga akhirnya semuanya usai.

Rina melihat proses akhir tadi dengan seksama, dia memperhatikan wajahku yg meregang, matanya was2 melihat kontolku memuntahkan cairan kental itu membaluri perutnya.

“Sudah den..sudah puas ?” Ujarnya beberapa saat ketika saya masih tersengal diam di atasnya, air mata itu kembali mengalir dari pinggir pipinya.Kalimat itu serasa menamparku.

Rasa penyesalan perlahan2 merayap . My gosh, saya baru saja menodai perempuan ini. Bagaimana mungkin hingga saya bisa sebejat itu.

“Maafin saya kak..saya bener2 khilaf..” Jawabku bingung.
saya beringsut mundur, memungut seluruh pakaianku, melangkah ke kamar dan meninggalkanya terbaring di ranjang.

saya melepas kekalutan pikiranku dengan menghisap sebatang rokok di ruang tamu. Mudah2an Rina tidak memperkarakanku, menganggapnya selesai hanya di sini. saya menepuk2 keningku menyesali kebodohanku.

Rina keluar kamar beberapa menit kemudian. Matanya sembab, dia duduk di kursi di sampingku, tanpa bicara. Suasana hening, saya tidak berani menatapnya atau memulai pembicaraan.

“Ini uangnya saya ambil den, nanti diusahain dikembaliin kok..” Ujarnya pelan, suaranya berat,hidungnya seperti tersumbat cairan.
“Iya kak, gak usah dipikirin soal kembalianya..dan..maaf soal yg tadi..”Jawabku tanpa menoleh kepadanya.
“Gak papa den..gak papa..”Jawabnya, tangisnya kembali pecah sedetik kemudian, bahunya terguncang2, saya hanya bisa terdiam.

“Sekali lagi maaf kak..”

Dia mengangguk pelan sambil menunduk,tetes2 air mata itu masih berjatuhan dipangkuanya. saya meraih uang itu, melipatnya,kemudian memasukanya ke dalam kantung dasternya.

Jemariku menyentuh pangkal tangannya, menepuknya pelan kemudian tanpa bicara saya melangkah masuk ke kamar sambil menutup pintu. saya tidak sanggup lagi melihat gadis itu menangis. saya terbaring,penat terasa, pinggangku nyeri.

saya melihat Jam di dinding, pukul 2 siang, saya mungkin telah tertidur lebih dari 2 jam. Perutku sangat lapar, saya melangkah keluar kamar. Rina mungkin telah lama pulang. saya kembali didera pikiran buruk. Dendamkah dia padsaya, bisa saja tiba2 orang sekampung muncul mendatangiku dengan tuduhan cabul atas laporan darinya. Hhhh..sudah terjadi, yg nanti urusan nanti.

saya pergi kerja agak telat keesokan harinya, saya sengaja menunggu Rina datang, memastikan bahwa kekawatiranku tidak terjadi. Jam 8 Rina tiba, perasaanku tidak karuan ketika dia membuka pintu depan.

“Loh belum kerja den?” Tanyanya, wajah itu terlihat datar, malah ada senyuman kecil menghias bibirnya.
“Ini dah mau jalan kak, sengaja nunggu kak dateng..”Jawabku berusaha tenang.
“Hehe..kenapa, tsayat saya gak bakal dateng lagi ya?” Tertawanya membuatku lega.
“Iya kak..tsayat aja, …mm..”
“Mm.. Apa den..?” Lanjutnya sambil masih berdiri di depanku.
“Maaf yg kmaren kak…”Jawabku.
“…..ya ndak papa den…mmm..yo wis..lupain aja..” Serunya, dia melangkah ke dapur tanpa menunggu reaksiku selanjutnya.

Yah sudahlah, yg jelas tidak akan ada masalah, dia sudah menerima perlsayaanku kemarin. saya segera berlalu menuju kantor.

Hari2 selanjutnya berlangsung normal, kami hanya bertemu di akhir pekan, tidak ada bahasan lagi soal peristiwa itu. Rina tetap melsayakan pekerjaanya dengan baik. Kami hanya sesekali mengobrol basa basi.

Satu bulan berlalu, saya mulai melupakan peristiwa itu. Kerjaanku makin banyak mendekati akhir tahun. saya juga makin sering menghabiskan waktu di luar bersama teman2 di akhir pekan.

Hingga pada suatu pagi di hari sabtu saya terbangun dan terjebak dalam lamunan tentang Rina. Malam itu saya mimpi erotis, dengan Rina, cairan sperma itu sebagian telah mengering memenuhi celana dalamku.
Dalam mimpi itu saya menggauli Rina dari belakang, bongkahan pantat itu terpapar jelas dalam penglihatanku. Damn it, kenapa hal ini kembali menggangguku.

Jam 9 pagi, gadis itu telah datang seperti biasanya. saya baru saja selesai mandi dan tengah bersiap utk sarapan.
” Dah sarapan kak? Ayo ini saya tadi beli dua bungkus nasi uduknya, satu utk kak..” ujarku sambil tersenyum ramah.
“Makasih den..nanti aja, kak mau beres2 cucian pakaian dulu..” Jawabnya.
“Santai aja dulu..temenin saya sarapan dulu..” Ntah kenapa pagi itu saya agresif.
“Nggih den, sebentar ambil piring dan sendok dulu..” Jawabnya seraya melangkah ke dapur.

saya melihat tubuhnya dari belakang, rok merah sepanjang bawah betis itu cukup jelas mencetak lekukan pinggul, pantat dan pahanya. My gosh, darahku berdesir, mimpi semalam membuat hayalanku makin parah.

Otsaya segera bereaksi, mencari jalan pintas, berandai2 seandainya hari ini saya kembali bisa memperdayainya. saya segera menepis pikiran buruk itu.

Rina telah kembali, duduk bersebrangan di depanku dan telah bersiap utk makan.

“Gimana kabar orang rumah kak, sehat semua?” Tanysaya basa basi.
“Sehat den…” Jawabnya santai.
“Anaknya kapan mulai sekolah kak, taun depan?”
“Iya den, rencana taun depan..mdh2an rejekinya lancar..”
“Yaa selagi saya di sini tetep aja kerja di sini kak..klo kak mau tambahan, mungkin coba mulai masak katering utk anak2 sini, kemaren ada obrolan kita di sini soal itu. Pada bosen katanya makan masakan luar, lebih boros juga…” Lanjutku.
“Wahh bjaka tu den..tapi perlu modal, ibu mertua saya pinter masak..”Jawabnya semangat.
“Gampang soal modal, nanti saya pinjemin..klo mau mulai depan kak..nanti saya tawarin temen2 saya..”
“Gak enak klo dipinjemin melulu, kasian den jaka..” Jawabnya.
“Yaa klo utk bisnis kenapa gak kak, sama2 bantu..saya jg nanti minta harga diskon dong..hehe..” Jawabku.
“Hehe..untuk den jaka gratis aja..lha uangnya kan dari aden jg..”
“Yaa gak boleh gitu kak, bisnis tetep bisnis..”Jawabku.
“Duh saya makin banyak utang budi dong den..”Lanjutnya.
“Jgn berpikir gitu..saling bantu wajar aja kak..”
“Yo wis, nanti tak bilangin sama ibu mertua, dia pasti seneng..”
“Iya mdh2an jalan kak..semangat yg penting..”Jawabku.

Obrolan pagi itu terasa menyenangkan, spertinya dia benar2 melupakan kejahatanku waktu itu. saya merasa lega, walau dalam hati saya menginginkan kehangatanya lagi. Pasti nanti ada jalannya, sabar aja, setan itu kembali membisiki.

Minggu pagi, keesokan harinya, Rina datang membawa anak perempuanya ke rumah.
“Maaf yaa den, si Rini saya bawa, mbahnya td pagi dijemput ipar saya ke Solo, mau ada acara kawinan sodaranya.”
“Yaa gak papa kak, biar dia bisa maen di sini, hei pa kabar cantik..” Seruku sambil tersenyum ramah kepada anaknya.
Bocah itu tersipu dan bersembunyi dibalik kaki ibunya.
“Saya mau jalan dulu ya kak, ada acara kawinan anak kantor..siang baru pulang..”
“Nggih den….monggo..” Jawabnya.

saya segera berlalu, Rina terlihat manis pagi ini, rambutnya terurai ikal menjuntai ke bahu. Paduan kaos biru dan celana jeans ketatnya itu membuatnya terlihat lebih muda. Well..well..well..kapan kita bisa bisa berdua di kamar lagi kak, ucapku dalam hati.

Hujan turun dengan lebatnya sesampainya saya kembali di rumah. Sebagian kemeja dan celansaya telah basah kuyup.
“Waah keujanan den..ini dipake handuknya dulu, nanti kak bikinin aer panas..”Serunya ketika membuka pintu.

“Makasih kak..” saya langsung berlalu ke kamar, mengelap kepala dan tubuhku dengan handuk dan mengganti pakaian.
“Rini kemana kak, kok sepi..” Ujarku ketika duduk diruang tamu.
” Barusan tidur di kamar belakang den..sudah kenyang tidur dia..wah..kenceng ya anginya..”Jawabnnya.
“Iya kak, sudah lama jg gak ujan..”

“Ini kak bikinin teh anget pake jahe den..diminum..” Lanjutnya.
” mantep nih..makasih kak..”Jawabku sambil menerima cangkir dari tanganya.

Teh itu tidak terlalu lama mengepul, udara dingin perkebunan ini membuatnya segera tidak begitu panas lagi. Udara diluar gelap seperi senja. Angin menerpa atap seng,menimbulkan suara berisik.

“Masih sibuk kak, santai aja dulu duduk2 di sini..”Ujarku melihatnya mondar mandir.
“Iya den, sebentar mau mindahin air panas ke termos..”Jawabnya.

Tak lama dia menghampiriku dengan membawa sepiring biskuit dan teh utk dirinya. Kami belum memulai obrolan. saya masih sibuk membalas sms teman2ku.

“kak gimana kabarnya, urusan yg dulu itu sudah selesai..” Ujarku memulai pembicaraan.
Dia sedikit terusik dengan pertanyaanku.
“Sudah den..kak sudah kapok gak mau lagi maen gituan..gak ada gunanya..”Jawabnya.
“Hehe..iya kak, ngapain jg..dikerjain bandar aja kalo togel sih..”Jawabku tersenyum.
“Uangnya nanti pelan2 kak angsur yaa den..maaf..”Lanjutnya.
“Gak papa kak, santai aja, nanti klo kateringnya lancar kak bisa dapet tambahan..tenang aja..” Jawabku.
“Makasih den..”

Kami kembali terdiam. Tiba2 saya tergelitik utk bertanya tentang peristiwa dulu itu. Sedikit ragu jika itu membuatnya tidak nyaman tapi kalimat itu mengalir tanpa bisa kutahan.
“kak..maaf boleh saya nanya..”
“Boleh den..mo nanya apa..”Jawabnya.
“Yg kemaren itu..kak gak marah dengan saya ?” Lanjutku.
Dia terdiam beberapa saat,aura wajahnya berubah.
“Mmm..kak ikhlas kok den..salah kak juga..sudahlah gak papa..”jawabnya pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah jendela.
“Boleh nanya lagi kak..” Lanjutku.
“Monggo den..”
“Apa yg kak rasa waktu itu,..mm..waktu di kamar..” kalimatku makin menjebak.
“….mmmm…gimana ya..gak tau den..”Jawabnya, wajahnya terlihat canggung.
” Sakit..atau jijik kak..”
“Jijik kenapa..sakit sih iya..” Jawabnya pelan.
“..aden kok bisa begitu waktu itu..kak ini jauh lebih tua..kok bisa..” Lanjutnya.
” ..nafsu laki2 kak..liar..kadang gak bisa kontrol..”Jawabku.
“Soal tua sih gak jadi soal..jujur aja, kak masih menarik kok..”Lanjutku makin berani.
“Menarik apanya..aden masih muda..cari pacar yang muda, cantik..gak susah..”Jawabnya.
“…well..saya masih belum tertarik utk pacaran lagi kak..”
” Apa yg aden pikir semenjak kejadian itu soal kak..”Tanyanya kembali.
” Maksudnya..?”
“Yaa apa aden pikir kak ini jadi perempuan gimanaa gitu di pandangan den jaka..”
“Saya nyesel sesudahnya kak, gak tega bikin kak gitu..yaa selanjutnya saya masih respek kok sama kak..”Jawabku.
“..kak juga nyesel..”
” tapi kalo boleh jujur..maaf yaaa kak..”
“Apa den..ngomong aja..”Jawabnya penasaran.
“.. Saya pengen ngulangin lagi..saya tau itu gak mungkin..maaf yaa kak..”Suarsaya sedikit bergetar, jantungku berdetak cepat.
“….mmm…apa yg aden cari..kak seperti ini, perempuan kampung, gak cantik..dah tua lagi..” Wajahnya lekat2 menatapku.
” ..masih tetep menarik kok kak..saya masih suka inget2 kejadian itu..”Jawabku.

Rina tersenyum tipis, saya penasaran apa yg ada dalam pikiranya.
“Apa yg aden inget waktu kejadian itu..” Ujarnya.
“Yaa indah kak..malem sabtu kemaren saya sempet mimpiin kak gituan sama saya..sorry..”Jawabku.
“hehe..aden masih muda, wajar kalo pikiran ke arah itunya masih kuat, jadi..”
“Sekarang jg lagi mikirin itu kak..”saya memotong kalimatnya.
“..hmm…yaaa kak berat hati utk begitu lg ..tsayat den..”Jawabnya.
“Kalo saya minta tolong supaya kak gak tsayat lagi gimana..”Responku mencecar pikiranya.
“Yaaaa..gimana den..gak usah de..yg sudah yaa sudah..”Jawabnya.

saya paham dia tengah dilanda kebingungan, di satu sisi dia segan menepis godaanku, di sisi lain dia tidak ingin terjerembab dalam perzinahan bersamsaya lagi.

saya menggeserkan dudukku mendekat. Tanganku memegang jemari tanganya. gadis ini terkesiap dgn kenekatanku.
“kak..gak perlu tsayat..kak bisa minta apa aja dari saya..” Ujarku sambil menatap kedua matanya lekat2.
” Jangan den..dosa….”Jawabnya ketsayatan.

Tapi dia sudah terlambat, ciuman bibirku telah mendarat di bibirnya. saya memagut2 bibir itu pelan.

Wajahnya pucat pasi..antara kaget dan bingung dengan apa yg dia tengah rasa. saya kembali menciumi wajahnya, bibir kami kembali bertemu, tanganku telah melingkar dengan manis di lehernya.

Dia hanya terdiam..tanpa reaksi. Tidak ada penolakan, saya makin berani merapatkan tubuhku. Kali ini tidak hanya bibir dan sekitar wajahnya, ciumanku mendarat di leher dan belakang telinganya. Rina bergidik, tubuhnya merinding.

Mendung semakin gelap diluar, petir sesekali menggelegar diiringi deru angin kencang. saya berdiri, kedua tanganku menggapai tanganya, menariknya keatas kemudian membawanya melangkah mengikutiku, ke arah kamar…

Rina sama sekali tidak bereaksi, dia kikuk mengikuti langkahku. Wajahnya tsayat2 melihatku ketika pintu kamar itu tertutup rapat.
Ruangan kamar cukup gelap, hanya sebagian tubuh atas kami yg terlihat jelas. Tidak perlu lagi berkata2, segera tuntaskan apa yg ada dalam hati.

saya membimbingnya utk berbaring diranjang. Wajahnya menatapiku tanpa henti,menanti kejutan2 selanjutnya. saya kembali menciumi bibir itu, tidak ada balasan berarti darinya. Seluruh leher dan bagian dadanya yg tertutup kaos itu habis ku kecup. Nafas Rina terdengar menderu.

Tidak perlu lagi basa basi, saya segera melepas habis pakaian yg dikenakanya. Hanya tertinggal bra dan celana dalam lusuh itu menutupi. Tubuhku pun telah hampir telanjang, pakaianku berserakan di lantai. saya langsung menindih tubuhnya.

Rina mendesah, jantungnya terdengar cepat berdetak di telingsaya, mulutku tengah puas mencium dan menggigit2 payudaranya yg lumayan besar.

Kulit kami saling menempel, bulu2 diperutku mungkin membuatnya makin merinding. Tanganku telah kesana kemari meraba tubuhnya, jemariku lincah menggosok2 sekitar selangkanganya.

kontolku telah sedari tadi diruang tamu mengacung keras, diranjang ini dia semakin garang menempel dan kadang2 menggesek tepat ditengah2 selangkangan Rina. Dia makin terbuai oleh rangsangan dariku. gadis ini siap sedia untuku hari ini, saya sangat beruntung.

Akhirnya kami sudah sama2 siap tempur. Vaginya sudah terkuak lebar dan basah. Permainan lidahku tadi di situ telah membuatnya tanpa sungkan2 merintih dan mencengkram erat kepalsaya.

Pahanya terkulai lebar ke samping, saya sudah bersiap menusuk. Sedikit demi sedikit batang itu terbenam diiringi dengan rintihan Rina dan desis yg keluar dari mulutku. Kami berpelukan erat ketika penis itu telah berhasil menyentuh dasar memeknya. Oh my gosh, nikmat sekali.

Kami kembali berpagutan, pelan2 saya menarik ulur selangkanganku. Rina hingga memeluk pantatku merasakan sensasi itu.

“Nikmatilah kak,nikmati yg sudah lama tidak kau rasakan. Usisaya memang terlalu muda untukmu, tapi saya sanggup memberimu kepuasan,” ujarku dalam hati.

saya ingin menikmati moment ini lebih lama, saya mengaduk2 kegadisanya perlahan dan lembut. Suasana begitu romantis.
“Uhh..uhh..shhh..hhhh…” Rina mendesah setiap kali saya menusuk selangkanganya. Tanganya lembut memeluk punggungku.

Kami terus berpagutan, pantatku meliuk2 menghantam. Makin lama gerakanku makin cepat. Tenagsaya seperti tidak habis membawanya pada kenikmatan. Mungkin lebih dari 15 menit berlangsung, Rina mulai kewalahan. Jepitan pahanya makin kuat sementara pantatnya tidak henti bergerak ke atas menyambut kontolku, nafasnya sudah tersengal. Mungkin tidak lama lagi Rina mencapai klimaks.

“Buuuk..ibuuuk..di manaaa…rini pengen pipis..” Tiba2 suara anaknya terdengar nyaring di depan pintu kamar.

Kami yg tengah melambung terkesiap kaget dan melepas pelukan. Sekejap saja kami telah berdiri, saling bertatapan dalam kebingungan.
“Buuk…ibuuuk..”Lanjut bocah itu.

Damn it..saya menyumpah dalam hati.
“Iya sebentar naaaak..pipis aja di dapur..ada kamar mandi di situ..ibu lagi beresin kamar..sebentar lagi keluar..” Jawab Rina panik berusaha memungut pakaianya yg berserakan di kasur.

“Iya buk..” Jawab bocah itu.
“Nanti baring aja lagi di kamar, ibu nanti nyusul..”Jawabnya sambil berusaha meraih celana dalamnya.

saya menahan tanganya, “biar aja kak..tanggung sebentar lagi..” Ujarku.
“Jangan..nanti dia curiga..” Jawabnya menepis tanganku.
“Nggak..sebentar lagi..tenang aja..”Seruku.
“Jangan Den..” Jawabnya, tapi kalimat itu terpotong.

saya menarik tubuhnya, nafsuku sudah memuncak. saya mendorong tubuh telanjangnya menghadap meja kecil di hadapan kami. Dengan sekali kibasan seluruh benda2 kecil di atasnya berlompatan jatuh ke lantai dengan suara yg berisik.

“Den..nanti den…sabar..” Jawabnya kebingungan.

saya tidak memperdulikan ucapanya. Tubuhnya ku dorong merapat ke pinggir meja, kedua kakinya saya paksa untuk melebar, pantatnya saya tarik ke belakang. Posisi Rina sudah menungging di depanku, belahan pantat itu mempertontonkan lubang anusnya.

saya menjadi kian brutal, pantat besar dan bahenol itu ku angkat, bagian vagina dan rambut2 halus itu terpampang didepan selangkanganku. kontolku langsung mendekat, langsung menghujam masuk. Pemandangan dibawsaya membuatku makin bernafsu.Batang penis itu perlahan menghilang diantara bongkahan pantatnya.

O gosh..nikmat sekali, saya mendesis2 menahan geli. Segera saja tubuhku menyodok2 dengan kuat. Tubuh Rina maju mundur terpapar seranganku. Sebentar saja dia kembali merintih.

Permainan kami berlangsung cepat, kekagetan tadi itu menambah selera, bunyi gesekan kemaluan kami mengiringi. Rina memutar2 pinggulnya berusaha segera meraih akhir perjuangan. kontolkupun sudah seperti ingin meledak.

Tubuhku semakin kuat menekannya kedepan, Rina gemulai memutar pantatnya kesana kemari, makin liar dan binal dan akhirnya dia meraih klimaks.

“Uhhhh…uhhh…dennn….aduuuhh..uuhh..huhhu..huh uuu..uuhh..” Jeritnya sambil terisak.

Kedua pahanya mengejang ksaya,kepalanya hingga terbaring dipermukaan meja sambil terus merintih tiada henti. Cairan hangat kegadisanya membasahi kontolku di dalam.

saya ingin segera merasakan hal yg sama, sodokanku makin cepat melabraknya.Beberapa kali ayunan akhirnya pantatku berhenti bergerak bersiap meregang, tanganku kuat mencengkram pinggulnya.
“Cabut den..cabut…jangan didalem..”Serunya panik.

saya masih sempat menarik kontolku keluar tepat ketika spermsaya datang menerjang.
“Ahhhhh….kakkk..oooh…shhh..ahhh…”Jeritk u ketika sperma itu menyemprot panas tepat diatas bongkahan pantat bahenol Rina.

Sebagian mendarat di dalam belahan pantatnya, mengalir turun menelusuri permukaan anusnya. Jari tangan Rina menyelusup dibagian situ, menahan aliran sperma itu mendekati memeknya dan menyekanya dengan cepat.

Kami terkesima dengan nafas tersengal. Nikmat masih menjalari benak kami dalam bisu. Akhirnya permainan ini usai.

saya terduduk lemas di pinggir ranjang menatap Rina yg masih berdiri dari belakang, badanya limbung memegang pinggiran meja. Cairan sperma itu berkilauan pada bagian pantatnya. Juga terlihat cairan putih kental dari dalam memeknya yg tertahan bulu lebat kemaluan Rina.

Hujan telah reda ketika kami duduk di ruang tamu. Bocah kecil itu tengah serius menonton tivi di belakang kami. Dia tidak menyadari bahwa ibunya baru saja telah bertarung hebat di kamar bersamsaya.

Mata kami yg hanya berbicara saat itu, apa yg sudah terjadi tadi membungkam kami tenggelam dalam pikiran masing2.

Semenjak hari itu hubungan kami berada dalam suasana yg baru. Usaha katering yg kujanjikan berjalan sukes, tarah hidup Rina meningkat lebih baik.

Hingga hari ini Rina masih menemani gairah mudsaya yg tak kenal batas. Ada terbersit dalam hati untuk menikahinya suatu hari nanti, biarlah waktu yg menentukan akhirnya. Udara dingin perkebunan teh ini membuat kami terus larut.

Author: Xean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *