Cerita Dewasa 2018 Kuperkosa Kakak Ipar Setiap Ada Kesempatan

Kuperkosa Kakak Ipar

Bandarapi.net ,  Kuperkosa Kakak Ipar Setiap Ada Kesempatan  – Aku punya seorang kakak ipar, Tia Puspadewi namanya. Usianya sudah 36 tahun, lebih tua 5 tahun dari istriku.
Mbak Tia, begitu aku memanggilnya, sudah menikah sama dua anak. Berbeda sama istriku yang cenderung kurus, Mbak Tia berbody aduhai sama dada dan pantat yang lebih besar dibanding istriku.

Rumah Mbak Tia tidak terlalu jauh sama rumahku sehingga aku dan istriku sering berkunjung dan juga sebaliknya. Tapi aku lebih suka berkunjung ke rumahnya, karena di rumahnya, Mbak Tia biasa memakai pakaian rumah yang santai bahkan cenderung terbuka. Pernah suatu pagi aku berkunjung, dia baru saja bangun tidur dan mengenakan daster tipis tembus pandang yang menampakkan buah dada besarnya tanpa bra. Pernah juga aku suatu waktu Mbak Tia sama santainya keluar kamar mandi sama lilitan handuk dan tiba2x handuk itu melorot sehingga aku terpana melihat tubuh aduhainya yg bugil. Sayang waktu itu ada istriku sehingga aku berlagak buang muka.

Suatu pagi di hari Minggu, aku diminta istriku mengantarkan makanan yang dibuatnya untuk keponakannya, anak-anak Mbak Tia. Tanpa pikir panjang aku langsung melajukan mobilku ke rumah Mbak Tia, kali ini sendirian saja. Dan satu hal yang membuatku semangat adalah fakta bahwa suami Mbak Tia sedang tidak ada di rumah.

Kuperkosa Kakak Ipar

Sampai di rumah Mbak Tia, semua masih tidur sehingga yang membukakan pintu adalah pembantunya. Aku masuk ke dalam rumah dan setelah yakin si pembantu naik ke kamarnya di atas, aku mulai bergerilya.

sama perlahan aku membuka pintu kamar Mbak Tia, dan seperti sudah kuduga, Mbak Tia tidur sama daster tipisnya yang bagian bawahnya sudah tersingkap hingga paha dan celana dalam warna hitamnya. Aku meneguk ludah dan langsung konak melihat paha aduhai yang putih mulus itu, apalagi lengkap sama CD hitam yang kontras sama kulit putihnya.

Pagi itu aku sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa menjajal tubuh aduhai kakak iparku. Tekadku sudah bulat untuk menikmati setiap lekukan tubuhnya. Setelah puas melihat pemandangan di kamar, aku kemudian menuju meja makan di mana kulihat dua gelas teh manis sudah terhidang, satu untukku dan satunya pasti untuk Mbak Tia. sama penuh semangat aku meneteskan cairan perangsang yang kubeli beberapa waktu lalu ke dalam teh Mbak Tia. Aku berharap wanita itu akan dipenuhi birahi sehingga tidak menolak untuk aku sentuh.

Dewi keberuntungan memang sedang memihakku pagi itu. Tak berapa lama, Mbak Tia bangun dan seperti biasa, sama santainya dia berjalan keluar kamar masih sama daster minim itu yang membuatku semakin tergila-gila.

“Eh, ada Farhan, udah lama?”, sapanya sama suara serak yang terdengar seksi, seseksi tubuhnya.
“Baru mbak, antar makanan buatan Rina”, jawabku sambil melihat sama jelas buah dada besarnya yang no-bra itu.

Mbak Tia memang sangat cuek, dia tidak memperdulikan mataku yang nakal memandangi buah dadanya yang menggelantung di balik daster tipisnya. sama gontai ia menuju meja makan dan menghirup teh yang sudah kuberikan cairan perangsang. Menurut teori, dalam waktu 5 sampai 10 menit ke depan, hormon progesteron Mbak Tia akan meningkat dan ia akan terbakar nafsu birahi.

Setelah minum teh, Mbak Tia masuk ke kamar mandi untuk cuci muka, pipis dan pastinya cuci meki lah, he3x…

Keluar dari kamar mandi, wajah Mbak Tia memang sudah lebih segar. Masih sama daster tipis yang memberikan informasi maksimal itu, dia memanggil pembantunya dan menyuruh ke pasar. Wah, tambah perfect deh, pikirku.

Setelah sedikit beraktivitas di ruang makan, ia kembali ke kamar. Pasti dia akan ganti baju pikirku. sama perlahan aku mengikuti di belakangnya. Dan benar juga seperti dugaanku, Mbak Tia tidak menutup sama baik pintu kamarnya. Dia begitu cuek atau sengaja memberikanku kesempatan mengintipnya berganti baju.

kontolku semakin mengeras melihat Mbak Tia menanggalkan dasternya dan … oh, rupanya obat perangsangku sudah mulai bekerja. Mbak Tia tampak gelisah lalu mengusap-usap selangkangannya sama tangan. Aku seperti diberi berkah pagi itu, Mbak Tia benar2x seperti terangsang hebat. Dia sama sedikit terburu-buru melepas CD hitamnya sehingga kini ia benar2x bugil di kamar. Kemudian kulihat ia mengusap-usap bagian meki dan sekitarnya sama tangan. Wah… tak akan kubiarkan dia melakukan masturbasi.

sama semangat 45 dan penuh percaya diri, aku membuka celanaku dan membiarkan kontolku yang sudah konak dari tadi mengacung bebas.

Walau sama sedikit canggung, aku beranikan diri membuka pintu kamarnya.

“Farhan… kamu…”, Mbak Tia menjerit melihat aku masuk ke kamarnya sementara dia sedang bugil dan lebih kaget lagi melihat aku tanpa celana dan mengacungkan penis ke arahnya.
“Daripada pakai tangan, pakai ini aja Mbak…”, pintaku seraya memegang batang kontolku.
“Gila kamu, jangan kurang ajar”, sergahnya ketika aku mendekati tubuh bugilnya.

Mbak Tia menampik tanganku yang ingin menjamahnya, tapi nafsu birahi yang membakar otaknya membuatnya tak cukup tenaga untuk menolak lebih lanjut sentuhanku.

Ketika tanganku berhasil meraih buah dada dan meremasnya, dia hanya bilang “Gila kamu!”, tapi tak sedikitpun menjauhkan tanganku untuk meremas-remas buah dada dan memilin puting susunya.

Aku sudah merasa di atas angin. Mbak Tia hanya bersumpah serapah, namun tubuhnya seperti pasrah. Setiap sentuhan dan remasan tanganku di tubuhnya hanya direspon sama kata “kurang ajar” dan “gila kamu”, namun aku merasa yakin dia menikmatinya.

Dugaanku betul, Mbak Tia akhirnya sama malu2x memegang batang kontolku.

“Besar banget punya kamu Farhan”, serunya.
“Pingin masuk memek Mbak tuh…” jawabku.
Mbak Tia tersenyum manja,”Gila kamu!”
“Iya mbak, saya memang tergila-gila pada Mbak”, rayuku sambil terus memilin puting susunya yang sudah mengeras.

Mbak Tia semakin relaks dan pasrah. Kini sama sangat mudah aku bisa meraih daerah selangkangannya yang berbulu tipis dan mulai meraba-raba memeknya yang ternyata sudah becek.

“Kaya’nya memeknya udah minta nih Mbak”, kataku.
“Gila kamu!”, entah sudah berapa kali dia mengeluarkan kata itu pagi ini.
“Nungging Mbak, saya masukin dari belakang”, pintaku untuk doggy style.

Mbak Tia masih sama sumpah serapah menuruti kemauanku. Kini pantat bahenolnya terpampang di hadapanku, pantat yang selama ini aku impikan itu akhirnya bisa kuraih dan kuremas-remas.

sama perlahan, aku memasukkan batang kontolku ke dalam liang memeknya. Tidak sulit tentu saja, maklum sudah punya dua anak dan memang sudah becek pula.

Maka adegan selanjutnya sudah bisa ditebak, Mbak Tia yang sudah terbakar birahi tentu saja orgasme lebih dulu akibat pompa kontolku pada memeknya.

Namun sekali lagi, pagi itu memang milikku. Meskipun sudah orgasmu, kakak iparku yang aduhai itu tetap penuh birahi meladeni permainanku sampai akhirnya kami merasakan orgasme secara bersama. Nikmatnya luar biasaaaa….

“Sembarangan kamu numpahin sperma di memekku ya Farhan…”, jeritnya ketika aku memuncratkan spermaku ke dalam rahimnya.
“Habis memek Mbak enak sih….”, seruku di telinganya. Kakak iparku hanya melejat-lejat menikmati orgasmenya juga.
Selesai orgasme, seperti sepasang kekasih, kami berciuman.
“Kamu memang gila Farhan, awas… jangan bilang siapa2x ya!”, serunya perlahan.
“Ya iyalah Mbak, masa’ mau cerita-cerita..”, candaku. Dia pun tertawa lepas.
“Kapan-kapan lagi ya Mbak…”, pintaku.
“Gila… kamu gila…” jeritnya sambil berjalan ke kamar mandi.

Aku memandang tubuh aduhai kakak iparku sama senyum puas. Akhirnya tubuh impianku itu kunikmati juga.

Dan kisah selanjutnya tentu juga mudah ditebak. Setiap ada kesempatan, kami berdua mengulanginya lagi, tidak hanya di rumahnya, tapi juga di rumahku dan kadang2x untuk selingan kami janjian di luar rumah, main di mobil, pokoknya seruuuu…

Author: Xean

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *